SELAMAT DATANG DI BLOG INGE INDRAWATI

My Album

Minggu, 25 September 2011



Satelit sains seberat 6 ton milik Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) jatuh ke bumi pada Sabtu waktu setempat. Lokasi jatuhnya puing antariksa itu masih menjadi misteri.


NASA yakin salah satu puing terbesar menghantam Samudra Pasifik, tapi mereka tak dapat memastikan di mana lokasi maupun waktu pecahan berukuran sebesar bus itu mendarat.



Satelit riset atmosfer itu mengakhiri perjalanannya selama 20 tahun di orbit bumi dengan bunuh diri. UARS menjatuhkan diri ke atmosfer pukul 03.23-05.09 GMT pada Sabtu dan pecah berkeping-keping ketika kembali memasuki atmosfer menjadi sekitar 26 bagian. Pecahan terbesar, diperkirakan mencapai 150 kilogram, ada kemungkinan mampu menembus atmosfer.



Ketika jatuh ke bumi, satelit itu melintas dari pantai timur Afrika ke atas Samudra Hindia dan Pasifik, menyeberangi Kanada utara dan Samudra Atlantik utara ke suatu titik di atas Afrika Barat. Sebagian besar lintasannya berada di atas air, di atas Kanada utara dan Afrika Barat.



"Karena kami tidak tahu di mana titik re-entry itu berada. Kami tidak tahu di mana puing itu jatuh," kata Nicholas Johnson, kepala peneliti puing orbital di Johnson Space Center di Houston. "Mungkin kita tak akan pernah tahu."



Terentang sepanjang 10,7 meter dan berdiameter 4,6 meter, UARS adalah wahana antariksa terbesar yang jatuh tak terkontrol menembus atmosfer. Satelit NASA lain yang pernah jatuh ke bumi pada 1979, Skylab, berbobot 68 ribu kilogram.



Stasiun antariksa Mir seberat 122 ribu kilogram jatuh ke Samudra Pasifik pada 2001. Namun pendaratan kembali Mir dikendalikan sepenuhnya dari bumi.



Kini NASA berencana membuat wahana antariksa besar yang proses jatuhnya dapat dikendalikan.